Sabtu, 05 Mei 2012
Senin, 09 Januari 2012
dia adalah Aisysh Nur Istiqomah...
Mobil hitam meluncur dengan cepatnya dari jalanan perkampungan itu. Dan mulai melambat saat tiba di jalan raya. Sepertinya AC mobil itu rusak, karena kening Rendi terlihat berkeringat. Oh tidak, AC ini terasa sejuk, malah mampu membuat sekujur tubuh kita menggigil jika kita turut di dalamnya.
Rendi merasa hancur, setelah dia tahu kalau Aisyah hanya tinggal menunggu dua minggu lagi bersanding dengan kekasihnya di pelaminan. Rasanya dia benci sekali pada lelaki yang beruntung itu. Lelaki yang telah memupuskan impiannya.
Rendi sudah tak kuat, dia butuh teman curhat. Dan ia tahu siapakah sahabatnya yang paling tepat tuk dia kunjungi saat ini.Maka mobil pun meluncur ke arah di mana sahabatnya tinggal.
———————
Rendi hempaskan tubuh semampainya di sofa yang sederhana namun tetap terkesan artistik. Dan tak lama kemudian yang punya rumah menghampirinya dengan membawa minuman dingin.
“Minumlah Ren!” Umar menyodorkan gelas yang telah berisi air bening yang semoga sedikit meredam panas suhu tubuh Rendi.
“Thanks Mar.” Dan setelah air itu berpindah ke dalam lambungnya Rendi pun siap-siap tuk mencurahkan isi hatinya. Tapi ternyata Umar malah mendahuluinya tuk berbicara. Umar akan menyampaikan kabar bahagia, dan Umar yakin sebagai sahabat baiknya Rendi pun kan turut berbahagia.
“Sobat, kemarin aku melamar seorang gadis. Dan alhamdulillah dia dan orang tuanya menerima. Takkan lama lagi aku dan dia menikah. Kau sebagai sahabat dekatku, kuminta kau menjadi saksi atas pernikahanku itu. Kau tahu kalau kedua orang tuaku sudah tak ada lagi. Sementara hanya merekalah yang aku punya. Bagiku, kau adalah orang paling dekat selain mereka.”
“Sahabatku, subhanallah aku sangat gembira. Tapi sejak kapan kau memiliki pacar. Sementara setahu ku, kau belum pernah menceritakan satu nama gadis pun padaku. Atau jangan-jangan kau tidak percaya lagi padaku untuk urusan yang satu ini.” Rendi berpura-pura marah.
“Tidak sobat, aku memang belum lama mengenal dia. Perjumpaan pertamaku sekitar satu minggu yang lalu. Ketika itu aku mengadakan pengobatan gratis di sebuah perkampungan. Dan diantara sukarelawan yang membantuku adalah gadis itu. Setelah aku coba selidiki ternyata dia adalah gadis yang teramat baik. Cantik tak hanya parasnya tapi juga hatinya. Dan dua hari kemudia aku mencoba melakukan perkenalan. Subhanallah, aku merasa sangat mantap. Hal ini diperkuat setelah hasil shalat istikharahku ternyata membuat tekadku semakin bulat.”
“Jadi siapakah gadis yang teramat beruntung mendapatkan pemuda baik hati itu?” Rendi memotong menunjukkan kepenasarannya.
“Dia adalah Aisyah Nur Istiqomah, seorang gadis sederhana dari Keluraha Cinta Kasih”
“akdfhsjfsdhfsdj sdvjgh dvbvhdkvhdihfsdasvg” Alias tak bisa berkata-kata lagi. Hancur.
(Dibikin tamat aja ya, soalnya cerita selengkapnya bukan untuk dipublikasikan di blog. Tahu kan maksudnya. Biasa, teknik marketing Tukang Mie)
Langganan:
Postingan (Atom)
